Mengucapkan syahadat dijamin masuk surga. Benarkah? 22 Juni 2007
Posted by Ibrahim in Do'a, Islam, Surga & Neraka.trackback
Ada artikel dari Dr. Yusuf Qardhawi yang saya baca: ORANG YANG MENGUCAPKAN SYAHADAT, PASTI MASUK SURGA. Dalam artiket tersebut difatawakan bahwa orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat diakhir hayatnya dijamin masuk surga, walaupun semasa hidupnya selalu mengerjakan maksiat. Pendapat itu didasarkan dari hadist-hadist nabi yang disampaikan dalam artikel tersebut. Benarkah kita dapat hidup ‘maksiat’ terus kita berharap masuk surga hanya dengan mengandalkan mengucapkan syahadat di akhir hayat?
QS. Yunus (10):90. Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.
Firaun sebelum matinya ternyata telah bersyahadat kepada Allah. Syahadat jaman itu seperti yang dia katakan dalam ayat 10:90.
QS. Al-Mu’min (40):46. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”.
Tapi ternyata Firaun dan pengikutnya tetap saja akan disiksa dengan azab yang sangat keras.
QS. Al Qashash(28):4. Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
Semasa hidupnya Firaun selalu berbuat aniaya dan kerusakan seperti dalam ayat 28:4. Walau diakhir hayatnya mengucapkan syahadat, tetap saja dia akan masuk neraka. Timbangan kejahatannya kiranya lebih berat dari pada timbangan kebaikannya, apalagi setelah bersyahadat Firaun kemudian mati dan belum berbuat amal saleh. Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? (QS.95:8).
QS. At-Tiin (95):
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
7. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
8. Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?
Ayat-ayat 95:4-8 berbicara tentang manusia, bukan hanya manusia pada umat Muhammad tapi berlaku bagi seluruh manusia. Jelas sekali bahwa yang tidak dikembalikan ke neraka adalah orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh.
Jadi tidaklah cukup dengan hanya mengandalkan syahadat saja. Syahadat adalah hanya awal perjalanan muslim, konsekuensinya adalah iman dan amal saleh. Iman dan amal saleh pun kalau dijabarkan akan ada konsekuensinya lagi.
Janganlah ‘bertaruh’:tidak ingin dimasukan ke tempat yang serendah-rendahnya(neraka) hanya dengan dua kalimat syahadat saja terus kita merasa cukup hingga kemudian kita lalai. Semua perbuatan kita akan diperhitungkan dan ditimbang di akhirat.
Mudah-mudahan kita tidak lagi menganggap enteng hidup didunia ini. Mudah-mudahan iman dapat kita tegakkan dan amal saleh dapat kita kerjakan, karena Allah telah berjanji dengan dua hal tersebut. Amiin.
Assalamu’alaikum
Betul mas Ibrahim, namun DR. Yusuf Qardlowi dengan pemahaman dan keluasan ilmunya insya Allah juga tidak bermaksud menyepelekan masalah ini.
Saya kira Dr. Yusuf Qardlowi tidak beranggapan bahwa orang yang mengucap (mengucap disini tentu saja juga meyakini dalam hati) dua kalimat syahadat itu langsung masuk syurga. Namun itu adalah sebuah kepastian (Insya Allah) bahwa orang tersebut telah beriman
dan suatu saat akan masuk syurga dengan keimanannya itu.
Walaupun ia sering melakukan maksiat tanpa sempat bertobat maka itu akan diganjar secara tersendiri oleh Allah SWT. Dan Allah adalah seadil-adilnya Hakim.
Hal ini berbeda dengan orang Kafir, walaupun mereka berbuat amal kebajikan namun tanpa syahadat maka amalnya itu adalah sia-sia.
Namun demikian saya setuju dengan mas ibrahim bahwa kita tidak boleh menganggap enteng hidup di dunia ini, mengingat hidup di dunia hanya sekali, setelah itu tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki, daripada beresiko masuk neraka kenapa tidak kita berupaya menggapai syurga dengan peningkatan kualitas iman dan amal.
Wallhu alam
Ya..tapi apakah hanya dengan keimanannya (meyakini dalam hati) saja juga sudah cukup sebagai tiket ke surga tanpa sempat beramal dengan imannya? Karena kedua hal ini nampak tidak bisa terpisahkan, saling terkait erat, seperti harus menyatu.
Hmm..iya juga sih, tapi menurut saya meyakini keimanan dalam hati sudah termasuk pahala utama. Guru saya dulu pernah cerita bahwa orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya walaupun seberat biji sawi , selama dia tidak mati dalam keadaan Musryik insya Allah akan ke Syurga juga (pada akhirnya), pun demikian dosa-dosanya dibersihkan dulu di Neraka entah berapa lama (mungkin sangat lama). Tapi memang saya belum menemukan dalil Al Qur’an yang meneybutkan demikian, namun ada beberapa hadits yang mendukung pendapat tersebut ( hmm..saya juga lupa haditsnya..walah).
Nah..itu lagi..tidak ada dalil Al Qur’an yang menyebutkan orang yang masuk neraka setelah disiksa (dibersihkan dosanya) kemudian akan dimasukan ke surga. Yang ada kalau sudah ke neraka maka akan neraka selama-selamanya, kalau sudah ke surga maka akan surga selama-selamanya.
Yang dihitung menurut Al Qur’an sepertinya juga bukan berat imannya tapi kepada berat perbuatannya, yang walau seberat biji sawi maka Allah akan membalasnya.
Wallahu a’lam.
euh… kabayan lihat2 di Al Qur’an teh…penghuni neraka dimulai dari minimal kafir hingga musyrik… yah diantaranyah termasuk munafik durhaka serta lain2nyah…
7:50-51
Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizekikan Allah kepadamu”. Mereka (penghuni surga) menjawab:
“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir,(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka”. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.
(7:51) merupakan definisi lain dari kafir, yaitu orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.
Sepertinya ‘warning’ bagi kita semua, bahkan bagi kita yang sudah beragama islam masih bisa dikategorikan kafir jika kita main-main dan senda gurau dengan agama islam kita ini.
Wah-wah..jadi saya dan kita semua:
1. mesti hati-hati dong walaupun sudah beragama islam,
2. jangan sampai tertipu dengan kehidupan dunia,
3. ingat selalu akan pertemuan dengan-Nya,
4. tidak mengingkari ayat-ayat-Nya,
5. jangan main-main dengan agama kita sendiri…
ya saya juga bingung dengan hadits, padahal shahih…soalnya kalo ada hadits shahih ternyata maudlu/daif, bisa hancur seluruh tatanan hadits yang sudah diklasifikasi sedemikian rumit,misal satu hadits Bukhari saja dinyatakan palsu, maka SEMUA hadits riwayat Bukhari juga palsu. Makanya saya masi mengambang neh, pengen klarifikasi dengan Yusuf Qaradhawi, apakah ada penjelasan gamblangnya? pasti beliau juga tahu ayat2 diatas. cuma nanyanya kemana yah?
Assalamu’alaikum wr wb.
saya ingini kasih pendapat boleh kan ya?
memang ayat-ayat didalam alqur’an sepanjang yg saya ketahui tidak ada yg mengatakan adanya penghuni neraka yg kemudian dikeluarkan dan dimasukkan dalam syurga. yg berbicara banyak tentang masalah ini adalah hadits rasulullah. sedangkan pada masalah penerimaan hadits ulama berbeda pendapat apakah ilmu yang dihasilkah oleh hadits ahad yg shahih memiliki konsekuensi sebagai ilmu yg qoth’i atau kah hanya zhoni(dugaan). dalam permasalahan ini(aqidah) saya lebih berpendapat bahwa hadits shahih yg berbicara tentang aqidah dapat dijadikan ilmu untuk keyakinan dengan syarat ada ada bukti dari alqur’an atau tidak mempunyai perselisihan secara diametral dengan ayat alqur’an(dan memang tidak mungkin hadits yg shohih bertentangan dengan alqur’an). tidak adanya ayat alqur’an tentang sesuatu bukan berasti bertentangan dengan ayat alqur’an. Hadits sendiri mempunyai beberapa fungsi, salah satunya sebagai penjelasan dari ayat alqur’an dimana alqur’an berbicara tentang suatu yang umum dan kemudian dijelaskan atau dikhususkan oleh hadits. Yang menjadi permasalahan adalah penerimaan terhadap hadits apakah shahih atau dho’if. Dalam permasalahan tentang diselamatkannya manusia yang mempunyai keimanan walaupun sebesar biji sawi dari neraka dan dimasukkan kedalam syurga didalam hadits, setahu saya haditsnya shahih dan banyak bertebaran walaupun belum berderajat mutawatir. Hadits ini menurut saya harus dipahami sebagai rahmat AllahSWT kepada manusia yg mempunyai keimanan. dalam alqur’an surat Yusuf ayat 87 Allah berfirman ” Janganlah Kamu berputus asa dari rahmat Allah sesunggunya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang kafir”, ini merupakan satu dalil umum tentang rahmat Allah. Orang yang mengucapkan SYahadat merupakan satu bentuk amal yang sangat besar dihadapan Allah. buktinya adalah bahwa Allah tidak menerima amal seseorang yang tidak disertai keimanan. Sehingga seorang seperti teresia(orang mengenalnya sebagai bunda teresia) yang dikenal baik dan memiliki perbuatan baik yg banyak tidak diterima oleh Allah dengan arti akan masuk neraka. Saya sepakat bahwa kita tidak boleh bermain-main dalam beragama apalagi berharap masuk syurga tanpa beramal sholeh. Allah berkehendak untuk menyiksa seseorang atau pun tidak. Saya tidak memaksudkan seseorang yg hanya bersyahadat tanpa beramal bahkan bermaksiat akan langsung masuk syurga, tidak. bahkan mereka harus dibalas dengan neraka terlebih dahulu. Terkait dengan ayat tentang fir’aun yang beriman ketika nyawa sudah ditenggorokan atau mau mati tapi tidak diterima oleh Allah artinya tetap dimasukkan kedalam neraka saya berpendapat didalam ayat tersebut ada indikasi bahwa fir’aun mengucapkannya dengan masih ada kesombongan dalam dirinya karena fir’aun tidak mengatakan beriman kepada Allah (amana billah) tetapi dia mengatakan “amanna birobbi musa wa harun” aku beriman kepada tuhannya musa dan harun. Inilah pendapat saya semoga bermanfaat wassalam.
Dear all,
silahkan kunjungki tulisan saya mengenai syahadat di http://searchtheblink.blogspot.com/
semoga berkenan
Assalamu ‘alaikum @Mas Ibrahim…
Apa khabar… ?!
Wassalam, Haniifa.
saya lupa Qur’an surat apa dan ayat berapa….. yang dineraka tidak bisa masuk surga KECUALI ada unta yang bisa masuk ke lubang jarum….. silahkan di artikan sendiri maknanya….